Jumat, 19 Agustus 2011

Diary untuk Udik.

Selamat malam.
Mungkin beberapa dari kalian yang sering mengunjungi blog saya tau bahwa saya adalah seorang penulis. Penulis diary, tepatnya. Kalau boleh di kilas balik, saya sudah menulis sejak di bangku SD. Tulisan-tulisan itu tersusun rapi di dalam sebuah buku kecil yang lazim disebut diary. Walaupun buku itu terorganisir dengan baik, tetapi saya yakin, penggunaan kata yang terdapat dalam buku tersebut tidaklah se-rapi dan se-organisir (eh?) bukunya. Banyak sekali kata-kata yang saya tuliskan sekenanya saja, tanpa memperhatikan kaidah tanda baca maupun makna. Namanya juga anak kecil, bukan begitu?
Ketika saya pindah ke Bandung untuk perkuliahan, buku-buku diary saya pun turut serta menemani. Kenapa? Karena sangat amat tidak memungkinkan apabila buku-buku itu saya tinggal. Banyak sekali hal-hal yang sepertinya tidak ingin saya bagi dengan orang lain, kecuali diary itu. Alhasil, buku-buku diary itu tersusun rapi di dalam lemari kecil di kamar kos saya.

Waktu itu saya sedang merapikan novel-novel saya yang tersusun berantakan. Satu per satu saya bereskan. Tiba-tiba saya melirik tumpukan diary itu. Saya bertanya dalam hati, "Apa kabar ya diary-diary yang penuh dengan kenangan masa lalu saya?"
Tanpa berpikir panjang saya mengambil buku diary pertama saya. Warnanya ungu. Ukurannya tidak lebih besar dari buku organizer yang biasanya dimiliki anak kecil. Mungkin umur diary itu sudah 14 tahun terhitung dari saya berumur 6 tahun. "Waw!", dalam hati saya bergumam sendiri.
Saya membaca hari demi hari yang ditulis di dalamnya. Tidak satu hari pun yang tidak membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Hal-hal yang ditulis di dalam diary itu sungguh menggelikan, mulai dari menu sarapan yang tidak sesuai keinginan saya, sehingga saya ngambek dan berlari-lari keliling rumah, sampai cerita ketika saya berkelahi dengan kakak kelas laki-laki saya. Ckckckckck...

Satu per satu buku diary itu saya baca, sampai akhirnya saya membaca buku diary ini.

10 Agustus. Namanya Mr. X atau biasa dipanggil "Udik". Umur perkenalan kita sudah lebih dari tiga tahun. Gue gak terlalu ingat gimana awal perkenalannya, tapi yang paling gak bisa dilupa adalah saat dia yang selalu tiba-tiba ninggalin gue.
Dimulai dari tahun pertama, intens berkomunikasi membuat gue jadi tertarik sama dia. Tapi, dengan sangat tiba-tiba dia menghilang begitu saja dan dekat dengan perempuan lain. Perasaan gue? Nyantai aja.
Tahun kedua, dia kembali datang di hidup gue seperti membawa angin segar. Sejujurya, gue belum pernah ketemu dia sama sekali. Tapi, lagi dan lagi, hari terakhir gue berhubungan sama dia, dia membuat pengakuan kalau dia kembali ke perempuan lain. Gue agak lupa kronologisnya. Waktu dia membuat confession seperti itu, kebetulan gue lagi di salah satu tempat spa. Pada saat itu juga, gue langsung membenamkan kepala ke dalam bathtub. Berharap semua hanya mimpi. Gue hanya bisa diam, tanpa meminta konfirmasi.
Ternyata dua kali dalam dua tahun itu tidaklah cukup. Setelah menjauhkan diri dariya, tiba-tiba sore itu gue melihatnya kembali. Dia memfollow twitter gue. Itu membuat gue sedikit terhenyak dan kembali meluap serta meletup-letup semuanya yang masih tersimpan dengan rapi ini.
Setelah berpikir dengan baik, akhirnya gue memutuskan untuk kembali menjalin silahturahmi. Hanya itu niatnya. Satu per satu timeline dia gue baca, kembali gue terperangah. Inilah kalimatnya:
"Oh Dinc, where are you now?"
Dan ada beberapa lagi dari timeline-nya yang sepertinya terkoneksi dengan kalimat sebelumnya.
Entah disengaja atau tidak, dalam hitungan sepersekian menit kalimat itu hilang seiring dengan gue meng-accept akun dia.
"Dia memulai semuanya lagi", begitu pikir gue. Respon dingin kerap gue lontarkan di awal komunikasi ini. Tetapi, semuanya berjalan dengan baik. Sangat baik. Sosoknya yang tidak pernah gue temui, rasanya begitu melekat. Seperti tidak ada jarak.
Satu hari, dua hari, tiga hari, semuanya berjalan lancar.
Lima hari? Enam hari? Tujuh hari?
"Ada apa ini?", gue kembali bergumam.
Apakah tujuh hari merupakan jumlah yang lama untuk dia dapat meninggalkan gue kembali? LAGI? Benarkah?
Percaya pada kenyataan merupakan hal yang sulit pada saat ini.
Hati yang sudah benci membatu, lambat laun terkikis dan hancur. Semuanya kembali ke keadaan dimana gue dapat menerimanya, tetapi dengan mudah kembali dia hancurkan?
"Ada apa ini, Tuhan?"
Sampai detik ini pun gue gak tau apa alasannya dan mungkin gue gak akan tahu. Tampaknya ini sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pengecut? Munafik? Jelas itu bukan urusan gue.
Yang jelas, hari-hari gue kembali jatuh! Asal dia tau! Dan dia cukup tau!!


Begitulah.
Silahkan kalian tentukan sendiri, apakah ini FAKTA atau FIKSI?
:)

♥dinadinc




Selasa, 07 Juni 2011

Diary of May 2011









Mei tahun ini adalah Mei terbaik yang pernah saya alami, how's yours? :)
♥dinadinc

Sabtu, 04 Juni 2011

Dare Yourself Like I Did



Penghujung Mei adalah salah satu hari yang bersejarah untuk saya. Hari itu tepat pada tanggal 29 Mei 2011, saya memutuskan untuk memberanikan diri memotong pendek rambut saya. Semula rambut saya sudah sepinggul kurang lebih panjangnya. Apa alasannya? Simpel. Jawabannya adalah GERAH. Gerah karena udara di Bandung yang sudah tidak sedingin yang diceritakan orang, gerah karena PA yang tidak kunjung usai, gerah karena individu yang ini menuntut itu, sedangkan individu yang itu menuntut ini. CKCKCK! Gerah kan?
Begitu saya datang ke salon langganan saya, terlintas untuk mengurungkan niat memotong pendek rambut. Tetapi, entah kenapa sejujurnya saya tertantang untuk mencoba hal yang baru. Sekedar informasi, saya memanjangkan rambut dimulai ketika saya duduk di kelas 2 SMA. Di jaman SMA-lah saya baru mengerti yang namanya "penampilan". Hahaha..
Hoplaaaa.... Setelah waktu bergulir sedemikian cepatnya, tiba-tiba saya bercermin dan seperti melihat sosok yang lain. To be honest, saya sangat menyukai penampilan saya yang sekarang. More fresh, more young, and ehhm... more sexy (forget it). Senyum saya spontan terlihat jelas di kaca itu pertanda saya puas akan keberanian saya sendiri. Memang benar kata banyak wanita bahwa rambut adalah mahkota perempuan. Tetapi, tidak harus rambut panjang kan yang bisa dianalogikan sebagai mahkota yang indah? Rambut pendek pun dapat menjadi mahkota. Intinya adalah bagaimana kita merawat rambut kita sedemikian rupa sehingga layak ditahtakan sebagai mahkota :)
Banyak sekali respon dan ekspresi dari teman-teman saya. Mulai dari "Oohh", "Waw", "Ih", "Loh?", "Dinaaaaaaaa?" sampai "Lo lagi out of control yah?"
Hey meeennn Imma doin really fine for sure. I just wanna somethin new. Something really recent new. Dan, tidak banyak perempuan yang berani untuk memotong pendek rambutnya setelah sekian lama memiliki rambut panjang. Tidak percaya? Coba saja tantang diri kamu sendiri untuk melakukannya (wanita berambut panjang). Sometimes, people can only judge other without dare herself. Oh life it's so poor, ya know :)

Apa yang bisa saya bagi disini adalah bagaimana mengumpulkan keberanian untuk melakukan sesuatu. Jangan pernah takut untuk mencoba. Karena dengan tidak mencoba, maka kita tidak akan tau apa yang terjadi. Jangan hanya tinggal di comfort zone, karena itu akan membosankan, entah untuk sekarang atau suatu saat nanti. Dan satu lagi, jangan pernah takut untuk dicemooh orang lain. Mereka seperti itu karena ada 2 faktor menurut saya, pertama karena mereka masih tertegun dengan perubahan kita atau ehm... mereka sirik dengan perubahan kita hehehe. Perubahan yang positif itu bagus kok. Jadi, jangan pernah takut untuk mencoba yaaaaaa... Saatnya berubah. Come on :)

♥dinadinc

Rabu, 01 Juni 2011

Biasa Pasti Luar Biasa

Selamat malam. Ditemani dinginnya malam hari di tanah Pasundan, saya akan memulai menggoreskan kata-kata yang terlintas di otak saya. Saya memang bukan seorang penulis handal yang membutuhkan kerangka karangan untuk membuat suatu tulisan, sehingga tulisan tersebut tetap di jalurnya dan klimaksnya cerita dapat tertuang dalam alur yang tepat. Saya hanyalah seorang mahasiswi biasa yang memang menyukai berbagi cerita melalui rangkaian kata-kata yang sebut saja itu adalah sebuah tulisan. Hobi menulisa sayaa terhitung sejak saya duduk di bangku SD. Hingga detik saya menulis ini, saya masih rajin tiap harinya menceritakan kejadian sehari-hari saya di dalam sebuah diary. Menurut saya, bukanlah hal yang memalukan untuk menulis di dalam diary. Tidak sedikit orang yang menertawakan saya ketika mereka tau bahwa saya selalu rutin menulis di dalam sebuah diary. Bagi saya, menulis di sebuah apa pun itu wadahnya, sama saja. Kebetulan saja saya membukukannya di dalam sebuah diary. Dikarenakan saya tetap membutuhkan privacy, dimana saya bisa mendapatkan kenyamanan ketika menulis secara gamblang tanpa ada seorang pun yang tau, maka diary yang saya miliki pastinya mempunyai kunci serta gembok sekaligus hehehe..

Di malam yang larut ini, saya tidak akan menceritakan hobi menulis saya. Lebih tepatnya saya akan mengungkapkan pendapat saya akan satu hal yang dalam beberapa waktu ini terus menjadi bahan pemikiran saya. Banyak sekali orang yang meremehkan kemampuan orang lain tanpa berkaca pada dirinya sendiri. Kalimat saya terdengar arogan, namun kita tidak bisa menutup mata akan hal tersebut. Sejujurnya, saya amat sangat tidak menyukai ketika seseorang meremehkan kemampuan orang lain dalam konteks apa pun itu. Ketika seorang teman sekali pun yang melakukan hal itu, saya pastikan saya akan membungkam mulut saya untuk tidak larut dalam percakapan yang saya rasa hanya membuang waktu saja. Merendahkan kemampuan orang lain jelaslah bukan hal yang terpuji. Saya bahkan ingat betul bahwa semenjaak kita mengenal bangku sekolah, tidak pernah sekali pun diajarkan untuk melakukan hal tercela. Bukan bermaksud untuk menjadi naif, tapi saya bukanlah pribadi yang menyukai menggunjing orang lain. Mungkin banyak diantara kalian yang membaca artikel ini berlaku hal yang sama. Hidup ini hanya sekali, maka ada baiknya kita memaksimalkan diri kita untuk melakukan hal yang baik dengan tidak merugikan orang lain.

Di mata saya, orang yang terlihat biasa pasti memiliki potensi yang luar biasa di belakangnya. Jadi, jangan terburu-buru menjudge seseorang bahwasanya orang itu tidak memiliki kemampuan apa-apa. Setiap orang memiliki bidangnya masing-masing. Apabila orang tersebut memang terasa kurang di bidang yang kita kuasai, bukan berarti orang itu tidak dapat menguasai apa pun. Tuhan menciptakan kita sebagai makhluk yang paling tinggi derajatnya. Didasari pada hal tersebut, maka saya yakin setiap orang dapat mengolah otaknya sehingga dapat menghasilkan sesuatu yang liar biasa. Bersainglah secara sehat. Berpikirlah secara logis. Berlakulah secara baik. Niscaya cinta dan kasih selalu ada pada diri kita.

Bagi kalian yang terlalu cepat meremehkan orang lain, posisikanlah diri kalian sebagai yang diremehkan. Rasakan bagaimana tidak enaknya menjadi pesakitan yang terus menerus dipojok-pojokkan. Layaknya sebuah roda yang teru berputar, maka hidup ini pun akan terus berdinamika seiring dengan berjalannya waktu. Berhati-hatilah. Apabila mereka yang kalian remehkan ternyata lebih berhasil daripada kalian, lalu mau ditaruh dimana muka kalian???

Dayeuhkolot, Jawa Barat

2 Juni 2011 2:14 a.m

♥ dinadinc
Powered by Telkomsel BlackBerry®

Senin, 30 Mei 2011

Seminar Itu Telah Usai

Ketukan pintu itu membangunkan tidur saya yang nyenyak. Ternyata sudah pagi hari, bahkan matahari hampir tepat melayang-layang di atas kepala saya. Entah kenapa hari ini saya bangun sedikit lebih siang dari biasanya. Padahal, sudah menjadi rutinitas saya semenjak menjadi Mahasiswi untuk bangun tepat jam 7 pagi. Sedikit terkejut kepada diri sendiri karena sejujurnya ini menjadi sangat aneh untuk saya, seorang Dina. Dina yang biasanya jarang sekali bangun di siang hari ternyata pengecualian untuk hari ini.

Hari ini?

Sedikit tertegun melihat kalender yang ada di handphone saya dan sedikit terkejut dengan pertanyaan dari sahabat saya yang telah mengetuk pintu kamar, "Baru bangun?"
Hari ini adalah salah satu hari yang ditunggu oleh saya selama kurun waktu 4 bulan ini. Hari ini adalah hari dimana saya akan melaksanakan Seminar Proyek Akhir. Apa yang saya persiapkan sehari sebelum hari ini? Tidak ada selain pergi ke salon untuk memotong "hampir" habis rambut saya yang sudah panjang semenjak kelas 2 SMA. Untuk memberanikan diri memotong rambut sependek ini dibutuhkan keberanian yang besar, setidaknya untuk saya. Tapi, saya tidak akan menceritakan tentang potong rambut saya itu, tetapi saya akan sedikit berbagi kebahagiaan atas apa yang saya alami hari ini.

Hari ini?

Seperti yang telah saya katakan sebelumnya, bahwa saya akan melaksanakan Seminar Proyek Akhir atau yang saya sebut sebagai eksekusi pertama. Kenapa eksekusi? Saya tidak mengerti ini sebuah tradisi atau asumsi, tetapi hampir semua teman-teman saya yang sudah lebih dulu melaksanakan seminar berpendapat bahwa:
  1. Seminar itu menakutkan
  2. Seminar itu membuat kita merasa kepala itu kaki, kaki itu kepala
  3. Seminar itu bikin kita mau pup terus
  4. Seminar itu bikin gak bisa tidur semalaman
  5. Seminar itu kalau bisa yaa jangan sampai pengujinya Pak Agus (hahaha itu menurut salah satu teman saya yang ternyataaaa diuji oleh Pak Agus)
Bagi saya, seminar itu adalah presentasi. Titik. Sampai H-1 saya belum merasakan nervous atau semacam itu. Saya masih asik membaca novel BEPE20, saya masih sempat pergi ke salon untuk nekat memotong pendek rambut, saya masih sempat makan nasi goreng jam 2 pagi. Lalu, apa yang saya siapkan untuk seminar itu? Saya hanya menyiapkan slide yang notabennya hanya selesai kurang dari satu jam. Disini dimaksudkan bahwa, membuat slide untuk seminar yang terbilang sangat penting ini setidaknya dibutuhkan waktu yang lebih lama dibandingkan dengan yang saya lakukan. Slide saya terbilang apa adanya, dimana tidak ada persiapan khusus untuknya.

Tepat satu jam sebelum seminar itu dimulai, tiba-tiba perut saya seperti sehabis turun dari roaller coaster, kemudian seperti sehabis meminum obat pencahar yang dapat ditebak membuat saya bolak-balik ke kamar mandi seperti panggilan alam di pagi hari. Setidaknya saya selalu membawa sabun cair dan parfum kemana pun saya pergi. Jadi, situasi emergency seperti ini dapat diatasi dengan amat sangat baik. Hahaha.
Lima belas menit sebelum seminar dimulai, sahabat saya, Dewa, sudah heboh BBM saya menanyakan saya ada dimana. Saya yang mau seminar, tapi dia duluan yang sudah sampai di ruangan. Tampaknya dia heboh sendiri melihat saya belum menyiapkan apa-apa untuk di ruangan. Padahal, saya masih sibuk bolak-balik di toilet. Akhirnya, selain saya sudah lelah harus berkali-kali buang air, saya segera mencuci muka saya dengan sabun scrub yang saya bawa. Sesegera mungkin saya berlari ke lantai 2. Bukan karena di kampus saya tidak ada lift, melainkan saya takut dengan lift. Silahkan tertawa atau mencibir membacanya. Terkadang saya berpikir, badan dengan nyali saya amat sangat tidak sinkron.

Sembari mengambil napas panjang akhirnya saya sampai di depan ruangan eksekusi itu. Tidak berapa lama kemudian sahabat saya datang. Saya tahu dia pasti akan datang memberi dukungan. Kata dukungan dalam beberapa menit terakhir terngiang-ngiang di dalam otak saya. Beberapa sahabat saya tidak dapat dapat karena kesibukannya masing-masing. Sangat dimengerti karena saya paham tiap individu memiliki kesibukan tersendiri terlebih prioritas. Saya sempat agak sedih mengetahui salah satu sahabat yang saya harapkan kedatangannya sakit. Itu berarti kemungkinan dia untuk datang ke seminar saya kecil. Dan itulah kenyataannya. Sampai detik terakhir dia juga tidak kunjung datang. Cepat sembuh yah sahabatku :)

Oke seminar dimulai. Saatnya saya untuk menunjukkan kemampuan berkomunikasi saya. Hasilnya? Mengecewakan menurut saya. Banyak sekali junk words yang keluar dari mulut saya. Padahal sebagai mantan seorang announcer saya paham betul junk words adalah musuh terbesar sebagai broadcaster. Entah kenapa jantung saya berdegup lebih cepat dari biasanya, napas pun ikut tertahan, dan pikiran menjadi tidak fokus. Tetapi itu hanya diawal saja. Untungnya. Setelah seminar berjalan, lambat laun junk words itu berkurang sampai hilang. Setelah saya selesai mempresentasikan proposal Proyek Akhir saya, pertanyaan-pertanyaan seperti tidak henti-hentinya menghampiri saya. Begitu saya selesai menjawab, pasti ada saja pertanyaan berlanjut yang seakan-akan ingin menghentikan otak saya untuk bekerja. Saya ingat pesan teman saya beberapa saat sebelum seminar dimulai, "Hapal Ayat Kursi kan, Din? Kalau nanti gugup, baca itu aja yah". Beberapa kali saya membaca Al-Fatihah untuk menenangkan diri. Terutama ketika lidah saya sudah hampir terasa kaku.

Seminar berjalan dengan sangat baik dan lancar. Tetapi, dibalik itu semua ada rasa ketidakpuasaan yang muncul dalam diri saya sendiri. Walaupun saya mendapat nilai yang terbilang baik, yaitu di atas 80, tetapi saya merasa tidak maksimal dalam mempersiapkan diri sebelum seminar dimulai. Apabila saya mempersiapkan diri lebih baik lagi, saya yakin bisa mendapatkan nilai yang lebih baik lagi. Tapi, bukan hanya nilai yang saya incar. Prioritas utama saya adalah kepuasaan diri atas kemampuan saya dalam menguasai materi. Bagi saya, nilai tinggi hanyalah bonus semata, tetapi pengetahuan yang maksimal ada puncak dari pencapaian. Hari ini saya tersenyum bahagia tanpa senyum kepuasan. Jangan buru-buru mengatakan saya adalah orang yang tidak mensyukuri atas apa yang saya telah terima, tetapi setiap individu memiliki target akan suatu domain objek. Begitu pula saya. Tapi, hari ini membuat saya berjanji pada diri sendiri, bahwa senyum kepuasan itu akan saya rekahkan pada eksekusi kedua, yaitu Sidang Proyek Akhir. Saya harus yakin dan mampu akan kemampuan diri saya sendiri. Karena itu adalah salah satu modal awal dalam mengimplementasikan planning kita.

Terima kasih sebesar-besarnya kepada kedua orangtua saya yang tinggal begitu jauh disana, tetapi doa dan harapan mereka begitu dekat dan hangat untuk saya. Terima kasih juga saya ucapkan untuk kedua pembimbing saya. Tidak ada pembimbing satu atau dua di mata saya. Bagi saya, mereka, Bapak Agus dan Bapak Toufan adalah pembimbing SATU yang dengan sabar dan ikhlasnya membimbing saya dalam mengerjakan proposal untuk seminar ini. Sahabat-sahabat saya yang begitu saya cintai. Mereka bagaikan atmosfer yang melindungi bumi dari sinar matahari di luar sana. Begitulah analoginya bagi saya. Mereka melindungi saya dari ketakutan diri saya sendiri. Andry, Dimas, dan Grant adalah unpredictable guess. Kehadiran mereka membuat saya tersenyum lebar dan seakan menambahkan nyawa saya apabila dapat dianalogikan seperti sedang bermain Pepsi Man hahaha.

Untuk kalian yang akan melaksanakan Seminar, jangan lupa untuk menyiapkan segala sesuatunya dengan sangat baik yah. Jangan sampai ada yang membuat kalian menyesal di belakangan hari. Dan yang paling penting, jangan sampai meninggalkan ibadah kalian. Karena pilar utama itu akan menguatkan kita di setiap kondisi apa pun :)




♥dinadinc

Selasa, 24 Mei 2011

KRI & KRCI 2011





Aloha. Mungkin beberapa dari kalian belum mengetahui apa itu KRI & KRCI 2011. Let me tell you, guys. KRI merupakan singkatan dari Kontes Robot Indonesia, sedangkan KRCI adalah singkatan dari Kontes Robot Cerdas Indonesia. Ini pertama kalinya saya menjadi MC di acara kompetisi robot. Pertama kali ditawarkan, saya agak bingung untuk menerima atau tidak. Kenapa? Karena dunia robotik adalah hal yang diluar jangkauan saya. Terpikir untuk datang dan menyaksikan hal-hal yang berbau dengan robot saja tidak pernah. Saya memang mahasiswi IT, tetapi entah kenapa saya tidak memiliki ketertarikan tentang dunia robotik itu. Tapi, keputusan saya untuk menerima membawakan acara KRI & KRCI 2011 merubah semua pandangan saya tentang dunia robotika.
Menjadi MC memang sudah menjadi pekerjaan sampingan saya semenjak menginjak bangku perkuliahan. Tepatnya setelah saya lulus dari salah satu sekolah Broadcast ternama di Kota Bandung. Menyenangkan dapat membaur bersama para penikmat acara. Tepukan tangan yang meriah, senyum hangat melempar tawa, serta ucapan selamat atas keberhasilan membawakan suatu acara menjadi penghargaan tertinggi bagi saya.
H-1 sebelum acara diselenggarakan, tentu saja semua pengisi acara diwajibkan untuk melakukan checksound di venue. Tidak terkecuali saya dan 3 MC pendamping lainnya. Saya tidak sendiri menjadi opening MC, melainkan bersama adik tingkat sekaligus sahabat saya, Coki. Jam demi jam berlalu. Kami menunggu giliran mulai dari siang hari dan sampai sore hari daaaaaan sampai malam hari. Fufufu... In fact, saya mulai gladiresik sekitar jam 9 malam. What a waiting moment! Banyak hal-hal yang tidak penting saya dan Coki lakukan ketika menunggu gladiresik. Mulai dari foto-foto bergaya cantik sampai akhirnya kehabisan gaya. Lalu apa yang dilakukan? Tentu saja masih foto-foto, tetapi dengan absurd pose. Hanya untuk membuang waktu.
Menerima pekerjaan ini membuat pemikiran serta pandangan saya terbuka tentang dunia robotika. Saya dituntut untuk belajar mengerti mengenai istilah-istilah robotik hanya dalam hitungan jam. Saya dituntut untuk memahami tiap venue yang ada di area kompetisi. Tapi, sungguh tidak menyesalkan karena ternyata dunia robotika itu sangat amat menarik. Saya amaze dengan kemampuan mahasiswa-mahasiswi peserta KRI & KRCI yang berasal dari berbagai kampus di seluruh Indonesia. Begitu hebatnya mereka karena berhasil membuat robot yang saya dan kami semua panitia yakin akan dapat diimplementasikan secara maksimal penggunaannya. Apalagi banyak yang memprediksikan bahwa beberapa tahun ke depan, robot akan menjadi teman baru bagi manusia. Bahkan, beberapa peserta dari kampus-kampus teknologi ternama di Indonesia berhasil meraih emas untuk kontes robotik se-dunia. Hebaaaaaatttt!! Mungkin untuk kali ini saya cukup menjadi MC saja di acara kompetisi robotik, tapi next time? Who knows? :)



♥dinadinc

premier anniversaire


Ketika menyadari bahwa hari ini adalah hari yang ditunggu
Hari yang telah berlalu seiring berjalannya waktu
Hari yang terhitung jumlahnya sebanyak 365
Kisah hari ini akan kita bagi bersama
Warna serta warni melebur
Menjadi tanda









spotted in Dunkin' Donuts then jump into J.co
Enough? Exactly no!
Sierra for the end of the night.
Oh.. Bandung

je'taime

♥dinadinc

Saya dan Mama

Saya selalu berselisih paham dengan Mama saya, dari persoalan sepele hingga persoalan besar. Semua bermula ketika perbedaan pendapat terjadi diiringi emosi yang memuncak, kemudian meledak. Pertengkaran terjadi begitu saja tanpa rencana. Saya yakin itu terjadi juga tanpa kemauan sebelumnya dari saya atau dari Mama. Mama selalu berkata aku terlalu muda untuk tahu apa yang aku perbuat. Mama selalu berkata aku terlalu muda untuk meneriakkan sesuatu yang Mama yakin dia juga sudah pernah melaluinya. Saya tahu dan paham kalau fase kehidupan saya tidak sebanyak dengan fase kehidupan yang sudah Mama lalui. Setiap perselisihan terjadi, saya tahu wajah memerah emosi Mama mengandung banyak arti. Mama hanya tidak ingin saya salah melangkah. Mama hanya tidak ingin saya terjatuh disaat Mama pernah terjatuh pula dengan itu ketika dia seumuran dengan saya.
Mama, selamat ulang tahun ya. Nama Mama selalu tereja dalam hati. Nama Mama selalu kulafazkan dalam lantunan doa. Dalam diam saya selalu bergumam, "kelak saya akan menjadi seperti Mama".

♥dinadinc

Selasa, 17 Mei 2011

Happy Birthday, Bule :)

Namanya Dinar Angga Indrakusuma. Pertama kali ketemu, saya kira dia sombong. Pertama kali ketemu, saya kira dia gak aware kalo saya ada disitu. Ternyata, dia jauh dari semua penilaian pertama saya. Orangnya menyenangkan. Sangat menyenangkan. Dari segitu panjang namanya, dia cukup dipanggil dengan Bule. Kenapa Bule? Awalnya saya pikir karena dia keturunan bule, tapi ko rambutnya ga blonde yah? Atau seengganya kulitnya putih dengan mata berwarna biru. Lagi-lagi saya salah penilaian. Ternyata nama Bule itu ada pertama kali karena sewaktu awal pertama kali kuliah di Bandung, si Dinar Angga ini rambutnya warnanya eehm kaya bule. Entah dia sadar atau engga itu cocok atau malah jauuuuuhh dari cocok buat dia. Hahaha.
Bule, pecinta wanita.
Bule, seorang puitis.
Bule, romantis.
Beberapa bulan lalu, saya pontang panting mempersiapkan ulang tahun sahabat terdekat saya. Dan Bule, salah satu sahabat yang dengan baik hatinya ikhlas membantu saya disaat saya tengah bingung kepada siapa saya harus minta tolong. Kasusnya sih simpel, yaitu siapa yang akan mengantar saya membeli kue. Hehe. Tapi, disaat itu semua orang tengah sibuk dengan jobdesk-nya dan semuanya demi membantu saya. Wah, sumpah momen yang sangat menyenangkan ketika Bule datang membawa kue lengkap dengan lilinnya. Haha.

Hari ini tanggal 18 Mei. Saya tau ulang tahun dia yang ke 21 ini tepat di tanggal 16 Mei. Ulang tahun dia dan saya hanya berbeda 6 hari saja. Bule ikut memberi saya surprise ketika tengah malam tepat di hari ulang tahun saya. Rasanya saya ingin berteriak ketika tau bahwa saya tidak bisa memberi dia surprise karena tepat pada tanggal itu saya mengalami suatu musibah. Pagi hari di tanggal 16, saya terpaksa dibawa ke rumah sakit karena saya mengalami penurunan kondisi tubuh secara drastis. Dan ketika diperiksa dokter, ternyata saya mendapat gejala tipes. Sigh. Hari itu, bahkan sampai pada saat saya menulis ini kondisi saya belum sepenuhnya pulih. Sejujurnya, saya merasa bersalah karena belum bisa memberikan apa yang sudah Bule berikan kepada saya. Bule dan teman-teman lainnya membuat hidup saya lebih berwarna di Bandung ini. Terlebih di tahun terakhir ini. Rasanya saya ingin berlibur kembali bersama mereka atau hanya pergi ke restoran atau hanya berkumpul sembari menonton dvd bersama. Sungguh momen yang sangat saya tunggu, tapi saya tau momen itu agak susah direalisasikan karena masing-masing dari kami memiliki kesibukan yang berbeda. Tapi, saya selalu mengusahakan waktu yang saya punya selalu ada untuk mereka. Dan yang sesali, tidak untuk dikondisi ini. Kondisi ini mewajibkan saya untuk bedrest dan tidak melakukan kegiatan yang memberatkan fisik saya. Turun tangga kosan saja sudah berhasil membuat badan saya kembali panas dingin.

Bule, selamat ulang tahun ya.. Maaf cuma bisa mengucapkan selamat di blog ini saja. Tapi, saya yakin ini hanya sementara. Karena nanti saya pasti dengan sangat gembira bersama yang lain akan merayakan ultah kita secara bersama-sama. Ada saya, Andre, dan kamu. Semoga semuanya menjadi sangat menyenangkan. Bule, semoga ditambahnya usia ini menjadikan Bule sosok yang semakin matang. Pengalaman yang sidah dilalui semoga dapat menjadikan Bule lebih dewasa dalam melangkah dan mengambil keputusan. Semoga Bule semakin dekat dengan Tuhan karena hanya kepada Dia-lah semuanya menjadi sangat tenteram dan damai. Saya sayang Bule, saya sayang kalian semua. Yuuuk... kita menghabiskan tahun 2011 ini bersama-sama. Tahun ini, tahun kita :)


♥dinadinc

Jumat, 06 Mei 2011

alive in Jakarta

Sejak kecil saya sudah tinggal di Jakarta, malah sedari lahir saya sudah menghirup udara yang katanya penuh dengan polusi ini. Apapun perkataan orang tentang Jakarta, terutama keburukannya, saya tidak ambil peduli apalagi ambil pusing. Biar bagaimana pun juga, Jakarta memiliki banyak hal yang tidak dimiliki oleh daerah lain. Baik itu kelebihan maupun kekurangannya. Tidak bermaksud rasis, tapi saya hanya mengungkapkan kerinduan saya atas domisili dimana saya bisa menghempaskan badan saya dengan nyenyak di atas tempat tidur di rumah hangat itu, keluarga.
Minggu-minggu terakhir ini merupakan minggu yang padat yang harus saya lalui. Dimulai dengan dobel kuliah yang saya ambil, Telkom dan Binus, tugas yang seperti tiada henti, serta UTS yang mengharuskan saya untuk tetap fokus mengikuti perkuliahan. Dan finalllllyyyy.... saya bisa menyempatkan diri untuk pulang ke Jakarta, yang notaben sebenarnya adalah menghadiri resepsi pernikahan teman saya (i'll post it later).
Believe it or not, tapi saya merasa kembali hidup ketika kembali menghirup udara di Jakarta, serta menyaksikan pemandangan gedung-gedung tinggi di bilangan jalan protokol itu. Bukan bermaksud untuk berlebihan, tapi lagi-lagi ini adalah suara kerinduan saya akan ibukota yang sudah menjadi domisili saya sedari kecil. Sejujurnya saya tidak sempat menghabiskan banyak waktu bersama teman-teman seperti yang biasa saya lakukan ketika kembali pulang ke Jakarta. Pertama, saya harus menemani Papa saya ke bengkel. Ehm sebenarnya ini bukan hal yang menyenangkan bagi saya, karena saya tidak begitu menyukai dunia otomotif, tapi yang saya lakukan hanyalah bentuk tanggung jawab karena telah (ehm) bisa dibilang merusak mobil Papa saya. LOL. Kedua, entah kenapa sahabat saya menjadi susah untuk bertemu saya. Saya harus memakluminya karena setiap orang memiliki kesibukannya masing-masing. Yasudahlahyaaaaah.
Next, hari terakhir saya di Jakarta adalah janjian dengan seorang sahabat lama. Namanya Harry. It was an amazing time. Really happy to shared many things with him. Daaaannn... saya harus kembali meninggalkan Jakarta setelah itu. Saya harus kembali ke kota dimana saya melanjutkan studi perkuliahan saya. Sedih sih memang karena saya sangat comfort dengan kota domisili saya even kota dimana saya menuntut ilmu tidak kalah asiknya. Yang ada di pikiran saya saat ini adalah secepat mungkin menyelesaikan kuliah saya kemudian kembali ke Jakarta untuk meneruskan kuliah ektensi saya. Dan Jakarta, sampai bertemu di lain waktu. Saya akan kembali lagi, Jakarta :)
ps: makasih loh harry buat slurpee-nya hihihi


me, dewa, and harry with shared-anything-then-laughing

♥dinadinc

Jumat, 29 April 2011

Floral Espadrille

This is one of my random thought. I don't know why, but I really love to collect wedges as my simply-daily-shoes. For now, Forever 21 is my one and only lovable brand that I really wanted. First time I opened F21 official website, my eyes immediately fixed on that cute one as you see above. Floral Espadrille Wedges, what a cute name, isn't it? Oh Lord, i hate to say this, but I really dissapointed with the price. Sometimes, the price in the boutique is more expensive than in the website. Why? You know the answer.
~Let me grab you, wedggy~

♥dinadinc

Selasa, 05 April 2011

Brand New Life

Halo selamat malam semuanya. Ini adalah salah satu tulisan malam saya lainnya. Malam ini menyenangkan. Sudah lama sekali saya tidak pergi keluar bersama teman-teman kampus saya. Banyak diantara kami yang akhir-akhir ini sibuk dengan kepentingannya masing-masing. Itu semua dapat saya maklumi karena kepentingan tersebut terkait dengan urusan kampus. Maklumlah, kami adalah mahasiswa/i tingkat akhir yang bisa dibayangkan sudah mulai sibuk menyusun Proyek Akhir. Tetapi, pada dasarnya memang saya yang jarang berkumpul dengan mereka. Bukannya sombong, tetapi saya bisa dibilang termasuk anak yang malas untuk keluar kamar kosan. hehe.
Malam ini kami pergi untuk melewatkan malam bersama. Kebetulan salah satu dari teman kami habis berulang tahun. Jadi, wajar ya kalo kami menagih traktiran. hehe. Kami pergi ke salah satu tempat karaoke dibilang mall yang ada di Bandung. Saya akan menceritakan tentang karaoke di post selanjutnya, tetapi yang ingin saya ceritakan disini adalah... saya merasakan seperti memiliki brand new life. Mungkin saya wajar berpikir seperti itu karena sudah terbilang lama saya tidak melakukan berbagai kegiatan menyenangkan bersama teman-teman kampus. Saya berjanji di semester terakhir ini akan saya manfaatkan sebaik mungkin. Saya ingin melewatkan detik-detik waktu yang tersisa ini bersama mereka. Rindu saya terhadap mereka sedikit terbayarkan, walaupun masih belum dapat berkumpul secara keseluruhan.

Malam ini menyenangkan. Tahun ini akan saya lewati dengan bijaksana. Bismillah :)

♥dinadinc

Selasa, 29 Maret 2011

Who am I (for you) ?

Entah ini sebuah permintaan atau sebuah pernyataan.
Yang jelas ini bukan sebuah penyesalan, tetapi bisa dianalogikan seperti sebuah harapan.

Bisakah kamu bertanya, "what do you want to make a perfect day together with me?"
Apakah ini terlalu susah untuk dipertanyakan?

Bisakah kamu berkata, "Hey, this is our day."
Apakah ini terlalu susah untuk diungkapkan?

Mungkin kita bukanlah sempurna, karena saya yakin tidak ada yang sempurna seperti Penciptanya. Tapi, bolehkan kita meminta? Atau setidaknya mengharap akan sesuatu?

Bolehkah ada ungkapan, "At least I'm a girl with fully sensitive case of a girl."
Bolehkah ada ungkapan, "At least once in my life or twice, hug me when I'm getting down without so many point of view questions."
Bolehkah ada ungkapan, "At least, I can stop to ask WHO AM I FOR YOU?"

Kalau posting ini merupakan sebuah kesalahan, maka semakin susahlah mengungkapan curahan hati yang memang terkadang susah diungkapkan secara lisan. Dan jikalau posting ini merupakan sebuah kebodohan, maka semakin susahlah cara untuk mengungkapkan apa yang terusik dalam siklus yang sudah ada beberapa waktu ini. Kasih sayang adalah hal indah yang sangat diinginkan setiap individu. Kasih sayang bukanlah take and give, karena itu bukanlah suatu simbol ketulusan. Take and give seakan-akan berkata bahwa kasih sayang itu memiliki pamrih. Kasih sayang itu merupakan give, give and always give, dimana memberi selalu menjadi prioritas utama untuk menjaga kasih sayang dan dimana tidak ada kata pamrih didalamnya.

♥dinadinc

Minggu, 27 Maret 2011

Perbincangan dengan penuh kebisuan

Pada dasarnya saya sangat menyukai perbincangan dengan penuh ide. Sebulan yang lalu, semua ide yang saya miliki seakan terkubur oleh kesalahan besar duniawi. Saya ingat betul malam itu saya sangat mempersiapkan diri. Mulai dari baju sampai hati.
Malam itu, malam minggu. Malam dimana sudah menjadi rahasia umum akan menjadi malam yang penuh dengan kerlap kerlip gemerlap lampu jalanan. Tidak ubahnya dengan kami. Kami adalah saya dan dia. Kami merupakan dua insan manusia yang sedang menikmati masa-masa muda bersama. Apakah salah kami melakukan ritual yang biasanya dilakukan anak muda lainnya? Menghabiskan malam minggu bersama, sebagai contohnya.
Perjalanan menuju sebuah cafe dilalui melalui kebisuan dan keheningan. Walaupun Oasis itu mengalun dengan kerasnya, tetapi tetap saja serasa tidak mendengar apa-apa. Tidak ada yang bergeming. Yang satu sibuk menyetir dan yang satu lagi sibuk meratapi kenyataan yang menimpa. Akhirnya, saya berusaha mencairkan suasana akan semua hal yang menurut saya membosankan. Saya memang menguap, pertanda saya memang bosan. Tapi dia?

Saya memesan es krim goreng. Itu adalah desert favorit saya. Tapi, dinginnya es krim itu tidak sama dengan kenyataan panasnya hati ini. Bukan hati saya tentunya. Sebut saja hati si orang yang menyetir tadi. Jam demi jam berlalu. Saya yakin, kopi yang dipesan pun sudah tidak sepanas ketika pelayan itu mengantarkan ke meja kami. Kami masih bergeming. Sepatah dua patah kata keluar dari mulut saya, tetapi kembali terdiam karena respon yang diekspektasikan tidak seindah bayangannya.
Saya sangat menyukai perbincangan dengan penuh ide. Itu yang biasa kami lakukan. Kami suka sekali berdiskusi, mulai dari musik sampai politik. Mulai dari hal bodoh sampai hal yang terkadang tidak bisa dinalarkan. Saya sangat nyaman dengan apa yang biasanya kami lakukan. Kami satu pemikiran, walaupun terkadang satu atau dua kali terjadi bentrok antar omongan. Tapi, lain untuk malam ini. Tidak ada pembicaraan yang menyenangkan. Tidak ada diskusi yang menghangatkan dinginnya malam di Bandung ini. Yang ada hanyalah pernyataan ketidakpercayaan dan kebimbangan.
Meyakinkan dengan perbuatan adalah hal yang saat ini sering saya lakukan. Saya tidak akan banyak mengerluarkan kata-kata yang menjanjikan. Saya banyak diam. Tetapi, saya tidak miskin perbuatan.

Semoga akan kembali lagi semua kenyamanan yang biasanya saling kami berikan. Semoga perbincangan dengan penuh ide akan kembali menghangatkan setiap hari yang dilalui dan yang akan terlalui. Semoga tidak akan ada lagi malam minggu bisu seperti ini. Semoga kerlap kerlip lampu jalanan menjadi saksi bisu akan janji dalam hati ini. Semoga.... dan semoga.


Ngopi Doeloe, Bandung, Indonesia.

♥dinadinc