Jumat, 19 Agustus 2011

Diary untuk Udik.

Selamat malam.
Mungkin beberapa dari kalian yang sering mengunjungi blog saya tau bahwa saya adalah seorang penulis. Penulis diary, tepatnya. Kalau boleh di kilas balik, saya sudah menulis sejak di bangku SD. Tulisan-tulisan itu tersusun rapi di dalam sebuah buku kecil yang lazim disebut diary. Walaupun buku itu terorganisir dengan baik, tetapi saya yakin, penggunaan kata yang terdapat dalam buku tersebut tidaklah se-rapi dan se-organisir (eh?) bukunya. Banyak sekali kata-kata yang saya tuliskan sekenanya saja, tanpa memperhatikan kaidah tanda baca maupun makna. Namanya juga anak kecil, bukan begitu?
Ketika saya pindah ke Bandung untuk perkuliahan, buku-buku diary saya pun turut serta menemani. Kenapa? Karena sangat amat tidak memungkinkan apabila buku-buku itu saya tinggal. Banyak sekali hal-hal yang sepertinya tidak ingin saya bagi dengan orang lain, kecuali diary itu. Alhasil, buku-buku diary itu tersusun rapi di dalam lemari kecil di kamar kos saya.

Waktu itu saya sedang merapikan novel-novel saya yang tersusun berantakan. Satu per satu saya bereskan. Tiba-tiba saya melirik tumpukan diary itu. Saya bertanya dalam hati, "Apa kabar ya diary-diary yang penuh dengan kenangan masa lalu saya?"
Tanpa berpikir panjang saya mengambil buku diary pertama saya. Warnanya ungu. Ukurannya tidak lebih besar dari buku organizer yang biasanya dimiliki anak kecil. Mungkin umur diary itu sudah 14 tahun terhitung dari saya berumur 6 tahun. "Waw!", dalam hati saya bergumam sendiri.
Saya membaca hari demi hari yang ditulis di dalamnya. Tidak satu hari pun yang tidak membuat saya tertawa terpingkal-pingkal. Hal-hal yang ditulis di dalam diary itu sungguh menggelikan, mulai dari menu sarapan yang tidak sesuai keinginan saya, sehingga saya ngambek dan berlari-lari keliling rumah, sampai cerita ketika saya berkelahi dengan kakak kelas laki-laki saya. Ckckckckck...

Satu per satu buku diary itu saya baca, sampai akhirnya saya membaca buku diary ini.

10 Agustus. Namanya Mr. X atau biasa dipanggil "Udik". Umur perkenalan kita sudah lebih dari tiga tahun. Gue gak terlalu ingat gimana awal perkenalannya, tapi yang paling gak bisa dilupa adalah saat dia yang selalu tiba-tiba ninggalin gue.
Dimulai dari tahun pertama, intens berkomunikasi membuat gue jadi tertarik sama dia. Tapi, dengan sangat tiba-tiba dia menghilang begitu saja dan dekat dengan perempuan lain. Perasaan gue? Nyantai aja.
Tahun kedua, dia kembali datang di hidup gue seperti membawa angin segar. Sejujurya, gue belum pernah ketemu dia sama sekali. Tapi, lagi dan lagi, hari terakhir gue berhubungan sama dia, dia membuat pengakuan kalau dia kembali ke perempuan lain. Gue agak lupa kronologisnya. Waktu dia membuat confession seperti itu, kebetulan gue lagi di salah satu tempat spa. Pada saat itu juga, gue langsung membenamkan kepala ke dalam bathtub. Berharap semua hanya mimpi. Gue hanya bisa diam, tanpa meminta konfirmasi.
Ternyata dua kali dalam dua tahun itu tidaklah cukup. Setelah menjauhkan diri dariya, tiba-tiba sore itu gue melihatnya kembali. Dia memfollow twitter gue. Itu membuat gue sedikit terhenyak dan kembali meluap serta meletup-letup semuanya yang masih tersimpan dengan rapi ini.
Setelah berpikir dengan baik, akhirnya gue memutuskan untuk kembali menjalin silahturahmi. Hanya itu niatnya. Satu per satu timeline dia gue baca, kembali gue terperangah. Inilah kalimatnya:
"Oh Dinc, where are you now?"
Dan ada beberapa lagi dari timeline-nya yang sepertinya terkoneksi dengan kalimat sebelumnya.
Entah disengaja atau tidak, dalam hitungan sepersekian menit kalimat itu hilang seiring dengan gue meng-accept akun dia.
"Dia memulai semuanya lagi", begitu pikir gue. Respon dingin kerap gue lontarkan di awal komunikasi ini. Tetapi, semuanya berjalan dengan baik. Sangat baik. Sosoknya yang tidak pernah gue temui, rasanya begitu melekat. Seperti tidak ada jarak.
Satu hari, dua hari, tiga hari, semuanya berjalan lancar.
Lima hari? Enam hari? Tujuh hari?
"Ada apa ini?", gue kembali bergumam.
Apakah tujuh hari merupakan jumlah yang lama untuk dia dapat meninggalkan gue kembali? LAGI? Benarkah?
Percaya pada kenyataan merupakan hal yang sulit pada saat ini.
Hati yang sudah benci membatu, lambat laun terkikis dan hancur. Semuanya kembali ke keadaan dimana gue dapat menerimanya, tetapi dengan mudah kembali dia hancurkan?
"Ada apa ini, Tuhan?"
Sampai detik ini pun gue gak tau apa alasannya dan mungkin gue gak akan tahu. Tampaknya ini sama saja seperti tahun-tahun sebelumnya.
Pengecut? Munafik? Jelas itu bukan urusan gue.
Yang jelas, hari-hari gue kembali jatuh! Asal dia tau! Dan dia cukup tau!!


Begitulah.
Silahkan kalian tentukan sendiri, apakah ini FAKTA atau FIKSI?
:)

♥dinadinc




1 komentar:

Ayrine mengatakan...

hmm fiksi, bener ga? hehe nice posting :)